N.O.V.E.M.B.E.R

Pikiran saya jelang akhir bulan ini makin semerawut. Antara sulitnya kuliah, rumitnya organisasi, carut marut pertemanan, dan kebingungan akan asmara. Setiap orang tentu punya konsep idealnya masing-masing. Dan saat kita merumuskan konsep apa yang ideal untuk diri sendiri, kita malah melupakan apakah konsep ideal yang kita ciptakan ini juga ideal bagi orang lain?

Tentu jawabannya relative, bisa saja malah menjadi sangat ideal dan bisa saja malah membuat segala sesuatu menjadi semakin buruk. November ini saya semakin dihadapkan dengan realitas hidup. Dan tentu konsep ideal pun diuji disini. Apakah konsep itu memang ideal atau malah konsep penuh dengan balutan “kepentingan yang benar-benar untuk diri sendiri”.

Tentang perubahan yang begitu cepat saat ini tidak terbesit sedikitpun di pikiran saya. Saya dengan berbagai konsep ideal dan harapan yang tinggi. Perlahan seperti dibebani oleh keinginan yang tidak pasti. Saya ingin yang seperti ini, saat terjadi malah tidak sesuai dengan harapan. Saya pun menjadi semakin emosional ketika berhadapn dengan manusia-manusia yang dengan bangganya mempertontonkan adegan yang kadang “tidak perlu” dan “tidak masuk akal”, masih percaya? Dengan tegas saya jawab tidak.

November tahun ini benar-benar melelahkan. Saya dipaksa untuk tetap menyatukan, menyeimbangkan, dan menyelaraskan otak dan hati. Karena kini keduanya semakin ingin berjalan masing-masing.

November tidak akan peduli dengan ini semua. Dia tetap saja melaju hingga hitungan terakhir sambil tersenyum sinis. November sepertinya akan terus menyesakan pikiran saya, hati nurani mulai jenuh untuk membantu otak. Dan pada akhirnya inilah November dan saya tetap harus menjaga keduanya agar tetap selaras.


Ibu-ibu pun demam HP qwerty


Sebenarnya demam ini sudah lama berlangsung di Indonesia. Bisa dibilang ini karena artis-artis kita yang di setiap sinetron pasti handphone berbadan cukup lebar lengkap dengan keypad qwerty-nya. Saya juga kadang-kadang heran kalau lihat seorang nenek-nenek lagi sibuk milih HP qwerty, apa dia benar-benar mengerti akan fitur-fiturnya atau ya seperti biasa ikutan tren. Dan saya hanya bisa bertanya tanpa berani bertanya pada nenek itu.

Tren HP ini semakin gila, dengan munculnya berbagai berry-berry’an yang lain. Berry yang dibandrol dengan harga murah meriah tentu semakin tren HP ini semakin menggila saja. Ga dapet yang berry asli setidaknya berry jadi-jadi’an punya lah. Setidaknya saat digenggam terlihat dari jauh seperti memegang BB.

Dan ternyata demam itu sampai ke rumah. Padahal dulu, Ibunda tercinta saya ini bilang “Ah HP yang sekarang juga udah cukup ga perlu diganti-ganti lagi”. Dan saya pun menambahkan, “lagian BB tuh rada susah Mah, mending yang biasa-biasa aja”. Saat itu Ibu saya setuju.

Selang beberapa bulan, mungkin akibat pergaulan dengan teman dan ditambah salah satu anaknya yang juga kena demam HP qwerty beliau pun jadi panas dan ga mau ketinggalan. Saya sih mencoba ngasih saran, mending kalaupun mau ganti sama model yang biasa aja. Tapi tetap mengejar prestige beliau pun melupakan ucapannya waktu itu. Dan ujungnya tetap saja dibeli.

Oke masalah bukan berhenti sampai disitu. Beliau beli katanya biar internetanya oke. Saya heran bukannya HP yang dulu sudah 3G ya? Cuma ga ngerti aja make nya gimana. Selanjutnya beliau semakin kebingungan dengan track ball. Track ball ditaklukan, kebingungan semakin ditambah dengan menu yang sangat banyak. Dan ditambah lagi, tampilan menulis SMS yang seperti chat, tidak adanya bahasa Indonesia, pusingnya untuk mendengarkan music, dan kebingungan-kebingungan lain. Sampai beliau pun akhirnya sedikit menyerah dan kurang puas dengan HP nya. Itulah kalau beli HP Cuma sekedar ikut-ikutan. Dan saya pun bilang,

“Ma terus gimana kalo ga bisa makenya? Mau dijual lagi?”

“Engga, mau beli N***A murah satu lagi

“Hah?”

“Yang BB magh buat dipegang-pegang ama disimpen aja, kalau mau nelpon atau SMS pake yang gampang”

“Jiah, mending buat Agung aja” (ngarep)

Cuma ngelirik, terus kabur.


Heuristic V :Labyrinth, Beres!

Akhirnya beres juga! Itu kalimat yang muncul pertama kali di otak saya ketika band terakhir menutup acara. Fiuh…3 bulan ternyata benar-benar tidak terasa. Dari mulai rapat pertama yans isinya mengumpulkan keinginan-keinginan masing-masing, konsep-konsep sangat ideal, sampai dimana kita semua harus realistis. Heuristic V: Labyrinth, sukses digelar! Gelaran tahunan yang ada di kampus saya ini bisa dibilang acara paling “besar” yang Psikologi UPI miliki sukses juga membuat saya kelelahan berpikir, “Apalagi nih?”. Di minggu-minggu pertama saya dan teman-teman satu seksi masih meraba-raba apa yang bisa ditampilkan. Dengan berbagai kejadian mulai dari gagalnya tayang film yang awalnya dijadikan sebagai tema dasar acara sampai tidak sengaja menemukan band indie Bandung yang sudah cukup populer. Dan hal-hal lain yang sangat tidak terduga.

Banyak pengalaman-pengalaman baru yang saya dapatkan selama proses pembuatan acara ini. Saya menjadi sedikit lebih realistis dari sebelumnya. Saat awal saya masuk Departemen Nalar saya sangat ingin membuat sebuah acara yang besar yang bisa membuat nama Psikologi ikut terangkat. Hal itu makin diperkuat dengan acara tahun sebelumnya yang membuat saya kecewa dengan konten acara dan pengemasan acaranya. Dari sana saya mencoba berpikir bagaimana membuat sebuah acara kajian film yang bisa “coming out”. Dan setelah penggodokan yang cukup pelik, seluruh pengisi acara yang ada di proposal awal tidak ada satupun yang terwujud. Dari moderator yang harganya gila-gilaan, band-band yang juga dengan label harga yang menyesakan dada, tidak lupa kasus “star syndrome” film yang awalnya direncanakan. Ya, kita awalnya memang mempunyai konsep acara yang sangat ideal, tapi saat melihat kondisi keuangan yang sangat minim, juga pengalaman tahun kemarin yang membuat sedikit trauma takut-takut tidak ada yang nonton. Mungkin niat kami semua yang memang ingin sungguh-sungguh membuat acara ini “lebih besar”, ternyata dijawab oleh yang Di Atas. Mendadak kami mendapat berbagai kemudahan-kemudahan.

Harinya tiba. Dan yang paling membuat hati berdebar-debar adalah, jumlah penonton. Beberapa menit menjelang acara dimulai, penonton mulai berdatangan. Dan, saya mulai sedikit lega. Auditorium CCF mulai dipenuhi para penonton, dan yang membuat senang adalah penonton tidak hanya dari jurusan saya saja. Salut untuk Humas dan Publikasi.
Acara berjalan cukup lancar. Hanya ada beberapa kesalahan teknis yang sempat membuat jantung saya naik turun. Tapi semua dapat teratasi. Diskusi berjalan lancar. Acara music berjalan juga dengan cukup lancar. Dan tak lupa pemutaran perdana Dokumenter “Sangat Amatir” saya dan Tyas, kami sudah cukup puas dengan film itu. Apalagi diakhiri dengan credit title yang sangat narsis. Burinong Picture sudah beredar!

Terakhir saya mau mengucapkan berbagai pihak yang telah mendukung acara ini. Mbak Ariani Darmawan yang sudah sangat banyak membantu acara ini, Studio Line In yang telah mempertemukan kami dengan salah satu personil Cherbomb, Arief cherbomb yang telah sudi membantu mulai dari audisi sampai proses tawar menawar yang menegangkan, Teh Ridla yang sangat cerdas, Egi Ginanjar yang membuat saya tidak terlalu takut lagi dengan kaum Gay, Teh Fanny yang sudah sangat berbaik hati menolong kami sejak dari Frappucino hingga Labyrinth, YAZ yang sangat atraktif ketika tandatangan kontrak, dan seluruh pengisi acara lainnya, Pink Pony club, I Scream for Ice Cream, Abuy KBR, dan seluruh sponsor. Tidak lupa pada panitia yang semuanya sudah kompak saling membantu saya senang berada menjadi bagian dari kepanitian ini, Logistik yang sudah sangat berkeringat (maaf saya ga bisa bantu, instruksi koor Acara ga boleh ikut ngangkut-ngangkut..hehe) maaf juga kalo sempet dapet nada suara yang kurang enak didengar, Dekorasi yang mantap tahun depan ayo ikutan lagi Nel, Humas yang sangat memuaskan, Publikasi & dokumentasi yang sudah ngider kemana-mana, Konsumsi sayang ya Cuma sekali, Kesekretariatan, Keamanan yang sangat serius menjaga selama acara, Danus dan Sponsorship yang kerja keras banget ya, para Lo yang banyak bersabar menghadapi para pengisi acara, Transport yang bolak-balik tanpa kenal lelah, Ketuplak kita semua yang sudah menenangkan kita di saat situasi sedang “panas-panas”nya juga selalu optimis, terakhir teman-teman Acara kita memang The Great Team ya teh? Hahaha…
Hasil kerja kita semua ga sia-sia kok. Acara ini bisa dibilang sukses. Ga ngutang. Ayo kita ketemu dan kerja bareng lagi tahun depan.

Dan akhirnya Departemen Nalar tutup buku.

versi yang lain.

Lucu dan geli sendiri kalau mengingat-ingat kisah salah satu teman saya. Dia adalah sosok perempuan muda yang dinamis dan cukup cerdas. Pemikirannya pun kadang-kadang luar biasa. [sebenarnya agak males juga muji-muji orang ini..hahaha]

Tapi semakin saya mengenal, saya semakin menemukan sisi konyol dalam hidupnya. Ya dibilang sepele juga tidak, tapi dibilang penting ga penting juga. Perilaku konyol ketika sedang PMS [katanya sih], mencak-mencak sendiri beserta protes panjang. Sepertinya ada bom yang akan meledak sebentar lagi.

Keinginannya untuk nikah muda pun, kadang membuat saya tergelitik. Begitu indahnya ketika mendengar impian-impian nikah mudanya. Dan saat saya yang menolak nikah muda, dia memberikan beberapa bantahan [atau pembelaan] tentang nikah muda. Namun terkadang keinginan tidak sejalan dengan kenyataan. Untuk mendapatkan suami tentu tidak semudah membeli sebungkus permen di warung. Perlu pertimbangan yang banyak. Dan tentu kalau ingin nikah muda, pencarian di mulai dari sekarang-sekarang ini.

Kriteria yang dicari, mapan, matang, menawan. [bener ga?]

Sayangnya saat pencarian menemukan orang dengan criteria 3M tadi sangat sulit.

Dan yang anehnya saat saya menyebut-nyebut nama seseorang dia malah benar-benar memikirkannya dan itu terlihat serius. Saat menemukan yang 3M, ternyata sudah menikah. Menemukan yang menawan ternyata “sama”. Dan yang terkakhir ini, dengan modal kejadian sebelumnya, mulai cek cincin di jari, atau melihat lebih teliti yang ditaksir. Dia tampaknya sudah bisa tidak begitu cepatnya naksir. Itu terbukti ketika bertemu dengan pria cukup mapan, cukup matang, dan cukup menawan. Dia tidak terlalu tergiur kali ini. Tidak seperti biasanya.

Terang saja, kali ini pria itu adalah seorang gay.

Jadi apa masih ingin nikah muda?

Tentu, penyanyi dangdut sampai pegulat, dia siap!

Tampaknya terus lanjut…hahaha